Ibu Menyusui jadi metode kontrasepsi (Gambar oleh gdakaska dari Pixabay)

Setelah melahirkan, metode kontrasepsi dibutuhkan untuk memberikan jarak kehamilan dan kelahiran yang cukup. Hamil yang berdekatan memiliki risiko bagi ibu dan bayi. Beberapa pasangan memilih kontrasepsi alami seperti menyusui supaya tidak menghambat kelancaran ASI eksklusif. Efektifkan menyusui sebagai metode kontrasepsi?

Menyusui memiliki efektivitas tinggi sebagai metode kontrasepsi jika wanita memenuhi ketiga kriteria MAL, yaitu:

  1. Ibu tidak menstruasi;
  2. Bayi harus disusui ASI penuh (ASI eksklusif) atau mendekati ASI penuh (bayi mendapat vitamin, air,   jus, atau nutrisi lain sesekali sebagai tambahan   ASI) dan sering disusui, siang dan malam;
  3. Bayi berusia kurang dari 6 bulan.

Cara kerjanya menyusui bisa menekan proses  ovulasi (pematangan sel telur). Hal ini terjadi    karena prolaktin, yaitu hormon yang merangsang   produksi ASI akan menghambat hormon FSH yang   memicu dilepaskannya sel telur. Jika tidak ada  sel telur untuk dibuahi, maka kehamilan  tak akan terjadi.

BKKBN memberikan dukungan penuh untuk menggunaan metode menyusui sebagai metode kontrasepsi. Ini terkait dengan pentingnya ASI esklusif dan MPASI yang benar.

“Breast feeding, spasing, stunting, 3-ing ini berkaitan erat. Saat memberikan ASI, terjadi ketidaksuburan. Ini luar biasa bahwa untuk kontrasepsi bisa dengan ASI supaya bisa memberi jarak kelahiran atau spasing. Autisme juga sangat erat hubungannya dengan ASI dan jarak kehamilan. Ketika jarak melahirkan bagus, minimal 3 tahun, tidak ada kekurangan nutrisi, sehingga tidak stunting,” kata Kepala BKKBN DR. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K).

“Saya suka bercanda, kan setelah anak berusia 24 bulan bisa bicara papa mama. Ketika anak sudah bisa memanggil papa, bolehlah papanya memanggil-manggil mama untuk merencanakan hamil lagi,” imbuhnya.

BACA JUGA:

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, dr. Kirana Pritasari mengamini pernyataan dr. Hasto Wardoyo tersebut. “Persiapan ibu menyusui harus dimulai sejak ibu hamil. Konseling dengan tenaga kesehatan ketika hamil. Saat persalinan bisa dibantu untuk inisiasi menyusui dini, satu jam pertama dilekatkan pada ibu,” katanya.

Kelas ibu hamil, persiapan menjelang persalinan, menyusui bisa didapatkan di Puskesmas terdekat. Semua tenaga kesehatan di Puskesmas yang dilatih sudah siap mendampingi itu.  “Setelah melahirkan, ibu harus selalu sehat. Selama pemeriksaan dilihat ibu berhasil menyusui atau tidak, apakah pelekatannya berlangsung dengan baik, kalau lecet bagaimana mengatasinya, peran bapak dalam pendampingan ibu menyusui bisa dipelajari sebelum melahirkan,” jelas dr Kirana.

Bagaimana cara menentukan/memilih alat kontrasepsi yang sesuai? Diskusikan dengan pasangan tentang rencana penundaan kehamilan.  Jarak kehamilan akan mempengaruhi kebutuhan alat kontrasepsi. Setelah ada kesepakatan, mintalah petunjukan pelayanan kontrasepsi kepada Konseling oleh tenaga kesehatan terlatih dengan bantuan tools berupa ABPK dan roda KLOP.

Setelah memahami penjelasan konseling, kamu punya hak untuk memilih dan menentukan cara/metode kontrasepsimu sendiri. Pastikan kamu merasa aman dan nyaman ketika menggunakan alat kontrasepsi.

Alat Kontrasepsi (Gambar oleh Anqa dari Pixabay)
Alat Kontrasepsi (Gambar oleh Anqa dari Pixabay)

Jenis Alat Kontrasepsi

Mari kita berkenalan dengan alat kontrasepsi temporer yaitu pil KB, suntik KB, implant, dan IUD. Ada dua golongan pil KB , yaitu jenis yang mengandung hormon progesteron dan kombinasi progesteron-estrogen. Keunggulan pil KB adalah harganya murah dan mudah dikonsumsi. Dikutip dari Popmama, tingkat kegagalan hanya 8% jika penggunanya menggunakan secara teratur.

Suntik KB memiliki durasi lebih lama daripada pil KB yang harus dikonsumsi setiap hari. Suntik KB dapat menunda kehamilan selama 1 bulan ada pula untuk 3 bulan. Kontrasepsi ini tergolong murah, dengan tingkat kegagalan 3% dalam pencegahan kehamilan.

Berikutnya, alat kontrasepsi implant atau norplant atau susuk. Istilah susuk muncul karena alat kontrasepsi ini seukuran batang korek api yang dimasukkan ke bagian bawah kulit, umumnya pada lengan bagian atas. Implan memiliki jangka waktu pencegahan kehamilan selama 3 tahun.

Implan ini cocok untuk pasangan yang tak mau repot. Ditambah, jenis KB ini karena tidak mengganggu produksi ASI. Sayangnya, harganya relatif lebih mahal dibandingkan menggunakan pil atau suntik KB, tingkat kegagalan sangat baik yaitu hanya 1 persen.

IUD (Intra Uterine Device) atau yang sering dikenal dengan kontrasepsi spiral ini diletakkan di dalam rahim untuk menghadang sel sperma menembus sel telur. Terdapat 2 jenis IUD yaitu yang terbuat dari tembaga dan dapat bertahan selama 10 tahun, atau yang mengandung hormon dan bertahan selama 5 tahun.

Karena jangka waktu pencegahan kehamilan yang cukup lama dan praktis, juga tingkat kegagalannya rendah. Karena itu IUD menjadi alat kontrasepsi yang cukup diminati oleh banyak pasangan di Indonesia.

Jika empat alat kontrasepsi temporer di atas menempatkan istri sebagai pengguna, KB vasektomi sebaliknya. Vasektomi memerlukan peran aktif suami untuk menghentikan aliran sperma dengan cara menutup saluran vas deferens pada pria. Hal ini memerlukan tindakan medis atau operasi dan bersifat permanen. Bagi pasangan yang tidak ingin memiliki keturunan lagi biasanya akan menggunakan cara ini sebagai salah satu option mencegah kehamilan.

Namun, karena hal ini bersifat permanen, akan lebih baik pria yang akan melakukan sterilisasi ini benar-benar mantap dan yakin sebelum menjalani tindakan. Dan pria yang melakukan tindakan ini tidak perlu takut karena tidak mengganggu ejakulasi, tidak menurunkan gairah seks, atau kemampuan ereksi.

Selain vasektomi, pembedahan tubektomi pada perempuan juga bersifat permanen. Tubektomi merupakan tindakan KB permanen atau sterilisasi pada perempuan, yang dilakukan dengan cara memotong atau menutup tuba falopi sehingga sel telur tidak masuk ke dalam rahim, sekaligus menghalangi sperma untuk masuk ke dalam tuba falopi.

 

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar