Ngabuburit Bersama Ayah: Cara Sederhana Menguatkan Ikatan Emosional Anak di Bulan RamadhanMenjadi Waktu Terindah Bersama

Cover - Keistimewaan Bonding (Kedekatan Emosional) antara Ayah dengan Anak Perempuan

Table of Contents

Oleh
Retno Dewanti P., S.Sos., M.A.P, M.I.Kom.

Bulan Ramadan selalu dinantikan, menghadirkan suasana hangat dalam kehidupan keluarga. Selain menjadi waktu untuk meningkatkan ibadah, Ramadan juga membuka ruang bagi keluarga untuk kembali mempererat hubungan yang sering terlewat di tengah kesibukan sehari-hari. Salah satu tradisi yang akrab di masyarakat Indonesia adalah ngabuburit, yaitu aktivitas menunggu waktu berbuka puasa.

Bagi sebagian orang, ngabuburit identik dengan berjalan sore, berburu takjil, atau berkumpul bersama teman. Namun dalam keluarga, ngabuburit bisa lebih dari sekadar menunggu azan magrib. Ngabuburit dapat menjadi ruang kebersamaan ayah dan anak, relasi yang sering kali tanpa disadari semakin renggang di tengah ritme kehidupan modern.

Dalam banyak keluarga, ayah sering dipandang sebagai figur yang bertanggung jawab pada pekerjaan dan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Peran tersebut tentu sangat penting, tetapi sering kali membuat waktu interaksi ayah dengan anak menjadi terbatas. Anak lebih banyak berinteraksi dengan ibu atau bahkan dengan dunia digital melalui gawai mereka. Di sinilah bulan Ramadan sebenarnya menghadirkan peluang yang sangat berharga bagi keluarga. Pada bulan ini, jam kerja di banyak tempat biasanya menjadi lebih singkat dibandingkan hari-hari biasa, sehingga waktu kebersamaan di rumah menjadi lebih panjang. Waktu yang biasanya untuk aktivitas pekerjaan dapat dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga.

Momen menjelang berbuka puasa kemudian menjadi kesempatan yang tepat bagi ayah untuk lebih dekat dengan anak, berbincang santai, mengaji bersama, atau sekadar menikmati kebersamaan yang sering sulit ditemukan di hari-hari biasa.
Berbagai studi menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam kehidupan anak memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan emosional, kepercayaan diri, dan kesehatan mental. Kehadiran ayah tidak hanya dibutuhkan dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam bentuk perhatian, percakapan, dan kedekatan emosional. Di sinilah ngabuburit menjadi momen berharga.

Tantangan membesarkan anak, di era digital saat ini semakin kompleks. Anak dan remaja menghadapi berbagai pengaruh dari media sosial, tekanan pergaulan, hingga persoalan kesehatan mental. Dalam situasi seperti ini, keluarga menjadi benteng pertama stabilitas, memberikan rasa aman dan dukungan emosional bagi anak. Ikatan antara orang tua dan anak merupakan faktor penting untuk membangun kemampuan anak menghadapi berbagai tantangan.

BACA JUGA ARTIKEL  Fenomena Self Diagnosis pada Remaja

Ngabuburit bersama ayah tidak harus jauh dari rumah. Banyak keluarga yang memanfaatkan waktu menjelang berbuka puasa dengan beraktivitas penuh makna. Salah satunya adalah berjalan santai, bersepeda di sekitar lingkungan rumah, berburu takjil atau memperbaiki bacaan, menghapal surat pendek, menjelaskan ke anak makna ayat ataupun mendongeng kisah teladan bisa menjadi sarana menanamkan nilai spiritual. Hal-hal sederhana tersebut dapat membuka ruang percakapan yang biasanya jarang dilakukan. Dalam suasana santai seperti ini, anak biasanya lebih mudah bercerita tentang pengalaman mereka di sekolah, pertemanan, maupun berbagai hal yang sedang mereka rasakan. Percakapan sederhana sering kali menjadi pintu masuk orang tua untuk memahami dunia anak dan menciptakan kenangan hangat yang melekat dalam ingatan anak hingga dewasa. Momen seperti inilah yang perlahan membangun kepercayaan emosional antara ayah dan anak.

Bagi banyak orang dewasa, kenangan masa kecil yang paling berkesan bukanlah peristiwa besar, melainkan momen kecil bersama orang tua. Kenangan seperti mengaji bersama ayah, mendengar cerita menjelang berbuka, atau berjalan bersama mencari takjil sering kali menjadi memori yang bertahan hingga dewasa. Momen inilah yang membentuk persepsi anak tentang keluarga, tentang kasih sayang, dan tentang cara membangun hubungan antara orang tua dan anak. Ramadan memungkinkan bagi keluarga untuk kembali memperkuat kedekatan emosional.

Ngabuburit tidak hanya sekedar mengisi waktu ebelum berbuka, namun membangun kembali ikatan batin, nilai keteladanan, dan spiritual keluarga. Ketika ayah hadir dalam kehidupan anak bukan hanya sebagai pencari nafkah tetapi juga sebagai pembimbing, pendengar, dan teladan. Anak akan tumbuh dengan rasa percaya diri yang lebih kuat, kemampuan mengelola emosi yang lebih baik, serta hubungan keluarga yang lebih hangat.

Pada akhirnya, ngabuburit bersama ayah mungkin tampak sebagai aktivitas sederhana. Namun di balik kesederhanaan ini menyimpan makna yang besar: membangun kedekatan, menanamkan nilai, menciptakan kenangan, dan memperkuat ikatan keluarga.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Scroll to Top