Siap Hamil

Kehamilan adalah berkah yang ditunggu-tunggu pasangan setelah menikah. Idealnya, kehamilan terjadi ketika pasangan sudah siap mengasuh anak. Lebih baik lagi jika kehamilannya direncanakan dengan penuh kesadaran. Lalu kapan waktu yang tepat untuk merencanakan kehamilan?

Merencanakan kehamilan penting untuk dilakukan dengan sadar karena kehamilan adalah usaha untuk mencoba menghadirkan dan merencanakan kehidupan baru. “Kualitas kehidupan baru diproses sebelum hamil, bukan setelah lahir baru direncanakan. Kita harus pikirkan sebelum hamil, apakah kita siap untuk hamil?“ ujar dr. Dyana Safitri, Sp.OG (K), Anggota POGI, Pengasuh Rubrik Tanya Jawab KB, Reproduksi, dan Kesehatan Seksual Siapnikah.org, saat live IG dengan tema ‘Merencanakan Kehamilan’ beberapa waktu lalu.

Suami maupun istri harus tahu bahwa kehamilan itu proses yang berat bagi perempuan karena harus mengandung makluk hidup dalam tubuhnya. “Ada proses yang memperberat fungsi tubuh ibu. Meskipun yang mengandung istri, suami juga harus ikut membantu meringankan beban istri saat hamil,” kata Dyana.

Tentang waktu perencanaan kehamilan, Dyana menceritakan ada banyak orang yang bertanya perencanaan kehamilan dimulai saat sudah menikah, sudah hamil, atau sebelum hamil?

“Kapan sih pra konsepsi atau proses perencanaan kehamilan dilakukan? Mestinya dilakukan saat remaja. Bahkan dari masa pubertas. Bukan cuma untuk perempuan tetapi laki-laki juga. Karena sel sprema dan sel telur sudah ada setelah pubertas. Kalau kita optimalkan remaja memiliki kualitas sperma dan sel telur yang baik dan sehat, nantinya anak-anaknya memiliki masa depan yang sehat pula,” terangnya.

Masa pra konsepsi saat remaja bukan berarti menganjurkan remaja untuk hamil, tetapi mempersiapkan kesadaran remaja untuk menjaga kesehatan tubuhnya sehingga kelak siap bereproduksi. Bertanggungjawab untuk fungsi reproduksi harus dimulai sejak remaja.

“Kalau tanggung jawab dan sadar pentingnya perencanaan kehamilan, remaja akan menghindari pergaulan bebas. Karena sadar seks sebelum nikah memiliki banyak risiko, salah satunya kehamilan. Satu-satunya cara untuk menghindari kehamilan yang efektif adalah tidak melakukan hubungan seksual,” terangnya.

BACA JUGA:

Perencanaan Kehamilan yang Baik
Mengingat salah satu fungsi keluarga adalah memberikan anak kesempatan hidup dalam keluarga yang lengkap fungsinya, maka perencanaan kehamilan adalah kewajiban suami istri. Perencanaan kehamilan bisa dimulai dengan memahami kehamilan berisiko tinggi.

“Ada kehamilan risiko tinggi, yaitu terlalu muda dengan usia kurang dari 20 tahun, terlalu tua usia di atas 35 tahun untuk kehamilan pertama, terlalu sering yang jarak kehamilannya kurang 2 tahun, terlalu banyak lebih dari tiga anak, itu banyak,” papar Dyana.

Tes kesehatan sebelum hamil dan memahami riwayat kesehatan suami istri juga masuk dalam perencanaan kehamilan. “Apakah kita memiliki risiko pribadi seperti auto imun, diabetes, penyakit jantung, darah tinggi, termasuk HIV dan Hepatitis, calon orangtua harus tahu. Harus diketahui dan diingat-ingat karena akan mempengaruhi kondisi saat hamil,” jelasnya.

Buat yang sudah pernah hamil harus diingat-ingat apakah ada keguguran berulang, apakah kurang nutrisi, perlu suplemen tambahan. “Setelah menikah pelajari metode kontrasepsi. Banyak kasus kehamilan tak direncanakan berhubungan dengan kekerasan dalam rumah tangga. Jangan sampai itu terjadi dengan merencanakan kehamilan,” pungkas dr. Dyana Safitri, Sp.OG (K).

Leave a comment