Risiko Pasangan Jarak Usia Jauh

Menikah beda usia biasa biasa terjadi. Apalagi jika lelaki lebih tua dari perempuan, justru dianggap ideal dengan jarak usia 5-6 tahun karena kematangan pola pikir wanita memang lebih cepat dibanting lelaki. Pernikahan yang jarang terjadi adalah pernikahan dengan jarak usia pasangan yang terpaut jauh di atas 10 tahun.

Salah satu contoh pernikahan beda usia yang menarik perhatian publik adalah pernikahan Ginanjar Soekmana dengan Tiara Amalia yang memiliki beda usia terpaut 32 tahun. Memang cinta yang kuat menyatukan segala perbedaan, menjembatani kekurangan dan kelebihan pasangan.

Namun, tetap saja ada risiko yang tak bisa dihindari ketika kamu dan pasangan terpaut usia sangat jauh. Salah satunya adalah perbedaan cara bergaul. Secara umum hubungan sosial masing-masing pasangan dengan rekan sebayanya berbeda. Hal seperti itu dapat memicu stres atau mengisolasi. Jika tidak memiliki komitmen yang kuat maka cinta bisa goyah dengan mudah.

Perbedaan usia yang sangat jauh secara otomatis membuat jarak kemampanan finansial yang besar pula. Perlu kedewasaan dan berbesar hati untuk menerima perbedaan status finansial pasangan. Selain itu, untuk perencanaan masa pensiun juga harus detail. Mengingat jarak usia yang jauh, ketika memiliki anak tentu sudah mendekati masa pensiun sehingga harus dipertimbangkan dengan baik.

Dikutip dari Kompas.com, menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Emory University di Amerika Serikat, pasangan dengan perbedaan usia satu tahun adalah yang cenderung paling bisa mengatasi masalah-masalah rumah tangga yang ada, dengan hanya 3 persen kemungkinan perceraian.

Angka kemungkinan perceraian naik hingga 18 persen untuk perbedaan usia lima tahun dan 39 persen untuk perbedaan usia 10 tahun. Sementara untuk pernikahan dengan perbedaan usia 20 tahun, tampak lebih suram dengan 95 persen kemungkinan memiliki masalah hubungan akut yang memicu perceraian.

BACA JUGA:

Perceraian itu bisa dipicu oleh orang luar. Keluarga yang tidak setuju, omongan teman dan tentangga bisa membuat hubungan memanas. Seolah mereka selalu punya rasa penasaran terhadap hubungan tersebut. Ketika sosok suami menjadi yang lebih tua, maka suami akan terkesan berposisi sebagai “sugar daddy” sementara sang istri seperti seorang “gold digger”. Sekali lagi, tanpa komitmen yang kuat, hubungan dengan jarak usia yang terpaut jauh memiliki resiko lebih besar bercerai.

Belum lagi masalah fisik dan fitalitas yang berbeda jauh. Mungkin saat menikah perbedaan fisik tak menjadi persoalan. Namun, seiring bertambahnya waktu pasangan akan lebih cepat menua. Fitalitas, termasuk dalam hubungan seksual, berkurang.

Raga pasangan yang lebih tua memiliki resiko penyakit yang lebih banyak. Keinginan untuk bertualang, menikmati saat bersama pasangan juga mungkin berkurang drastis. Bukannya bersenang-senang, justru harus merawat pasangan yang jauh lebih tua.

Namun, tak ada yang menjamin pernikahan dengan beda usia yang sangat jauh pasti gagal. Kenyataannya, pernikahan dengan beda usia ideal juga banyak yang bercerai. Sebelum memutuskan menikah dengan pasangan yang beda usianya sangat jauh, kenali  masalah dalam pernikahan yang akan muncul sehingga bisa bisa diantisipasi.

Cinta saja tidak cukup, perlu komitmen untuk mencapai tujuan dan harapan berumahtangga. Ini berlaku untuk semua pernikahan, baik yang usianya terpaut sedikit maupun pasangan yang usianya terpaut jauh.

 

Leave a comment