Persiapan Menjadi Ayah (Foto: Pexels)

Menjadi orang tua pasti merupakan pengalaman berharga dan memberikan pelajaran sepanjang hidup. Namun, untuk menjalaninya tentu memerlukan persiapan matang. Tak hanya menjadi ibu, persiapan menjadi ayah pun tak kalah penting sehingga harus diperhatikan.

Dilansir dari Healthline, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan ketika kamu akan menjadi ayah.

1. Persiapkan kondisi kesehatan
Tidak hanya istri yang perlu mempersiapkan kesehatan untuk menjadi calon ibu, menjadi ayah juga perlu. Apa yang dikonsumsi calon ayah sehari-hari, akan berpengaruh pada kesehatan sperma.

Jaga pola makan seimbang. Makan dengan seimbang menjadi hal yang cukup penting dalam persiapan menjadi ayah. Kamu disarankan untuk mengonsumsi karbohidrat, protein rendah lemak, memperbanyak makan buah dan sayuran serta minum susu atau yogurt yang juga rendah lemak demi meningkatkan kualitas sperma.

Kamu juga perlu menjaga berat badan. Saat berat badan ideal, kamu turut menjaga kesehatan dan kualitas sperma. Calon ayah dengan berat badan berlebih, apalagi obesitas, cenderung memiliki kualitas sperma yang buruk. Untuk menjaga berat badan tetap ideal, kamu bisa menerapkan pola makan sehat dan rutin berolahraga. Upayakan pula untuk segera mengurangi merokok dan konsumsi minuman beralkohol.

Selain itu, mempersiapkan kesehatan juga nggak kalah penting untuk bekerja dan menemani istri selama kehamilannya. Misalnya, ketika istri sulit tidur di malam hari, istri mengalami keterbatasan dalam mengurus keperluan rumah, belum lagi ketika anak sudah lahir nanti. Kalau kamu memiliki kesehatan yang prima, tentu bisa maksimal dalam merawat si kecil juga.

2. Belajar tentang kehamilan dan parenting
Walaupun tidak ikut merasakan kehamilan, sebagai calon ayah juga wajib mengetahui seluk-beluk tentang kehamilan, proses melahirkan, dan tentang pola asuh anak. Dengan belajar, kamu bisa turut memahami apa yang dirasakan istri, memahami apa yang menjadi kebutuhannya, dan tahu apa yang mesti dilakukan untuk membantunya.

Intinya adalah kamu belajar untuk mendukung pasangan dalam fase yang sedang ia jalani. Selain memperbanyak membaca buku dan ulasan di internet, mulailah untuk berkonsultasi dengan orang sekitar yang sudah berpengalaman dan aktif bertanya ketika berkonsultasi dengan dokter sebagai langkah persiapan menjadi ayah.

3. Mapankan kondisi keuangan
Kamu juga perlu memastikan kondisi keuanganmu mapan ketika akan menyambut buah hati. Setelah menikah, kamu bertanggung jawab atas kebutuhan istri, belum lagi, kalau masih menanggung harus kebutuhan keluarga. Dengan adanya anak, pasti tanggung jawab semakin banyak karena punya anak kebutuhannya sangat banyak.

Untuk persiapan menjadi ayah, kamu mesti menyiapkan keuangan dalam beberapa pos seperti kebutuhan biaya konsultasi dan pemeriksaan selama kehamilan, kebutuhan pemenuhan nutrisi selama kehamilan. Kamu juga harus memikirkan untuk biaya melahirkan. Pastikan kamu menyiapkan uang sekian persen lebih banyak dari biaya yang sudah disebutkan. Uang cadangan ini penting banget, untuk berjaga-jaga seandainya ada tindakan tambahan yang dibutuhkan.

Kebutuhan lainnya yakni keperluan setelah anak lahir. Misalnya biaya untuk pemeriksaan kesehatan, vaksinasi, susu, popok, dan lainnya. Asuransi kesehatan anak juga penting. Sistem kekebalan tubuh anak masih berkembang, sehingga anak cenderung mudah sakit. Dengan adanya asuransi kesehatan, diharapkan anak bisa mendapatkan pengobatan dengan lebih mudah dan lancar. Asuransi kesehatan juga akan meringankan dari segi biaya.

Perhatikan juga tabungan biaya pendidikan karena biaya sekolah semakin mahal. Dengan menyicil tabungannya sejak dini, pastinya akan lebih meringankan. Tabungan ini bisa berupa uang, emas, atau asuransi pendidikan. Miliki juga biaya darurat untuk kebutuhan tak terduga.

4. Ketahui perubahan pola seks saat hamil dan setelah melahirkan
Seks adalah kebutuhan dan merupakan hak bagi setiap pasangan. Namun, aktivitas ini bakal mengalami perubahan sejak istri hamil hingga beberapa waktu setelah ia melahirkan.

Menurut MayoClinic, selama kehamilan tersebut dalam keadaan normal, maka melakukan seks saat hamil adalah aman. Selagi istri merasa nyaman, kamu bebas mencoba posisi seks dan jenis seks apa pun (misalnya oral), asalkan tidak memberikan tekanan pada perut. Selain itu, istri boleh turut mengalami orgasme saat berhubungan intim.

Kegiatan seks biasanya disarankan dihentikan setelah memasuki minggu-minggu terakhir kehamilan, karena ada suatu hormon yang ada di dalam sperma yang bisa memicu kontraksi.

Kamu dan pasangan juga akan disarankan untuk tidak berhubungan intim selama kehamilan jika istri berisiko mengalami keguguran atau pernah terjadi keguguran sebelumnya, istri berisiko melahirkan bayi prematur, istri mengalami kram perut, keputihan atau pendarahan saat hamil tanpa sebab yang jelas.

Kondisi lain yang sebaiknya tidak melakukan seks yakni ketika istri mengalami lepas membran (ruptured membrane) atau ketuban rembes (bocor), istri mengalami pembukaan lebih awal, istri sedang hamil bayi kembar, serta ketika istri mengalami placenta previa. Ini adalah kondisi di mana plasenta atau ari-ari berada di bagian bawah rahim, sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalur lahir.

Sesi bercinta bisa kembali dilakukan setelah empat hingga enam minggu setelah istri melahirkan. Waktu yang dibutuhkan mungkin akan lebih lama jika istri melahirkan melalui operasi caesar, mengalami luka robek pada vagina atau mengalami episiotomy (penyayatan vagina).

Menunda untuk berhubungan intim perlu dilakukan untuk memberikan waktu buat tubuh istri agar bisa pulih kembali, menghindari memperparah rasa sakit setelah melahirkan dan meminimalisasi risiko komplikasi setelah melahirkan.

Ada pun beberapa komplikasi yang mungkin terjadi setelah melahirkan, misalnya infeksi postpartum pada rahim, ginjal dan kandung kemih. Lainnya adalah nyeri pada bagian perineal (dari vagina hingga ke anus), hemorrhage (pendarahan), keputihan, wasir, payudara bengkak, dan lainnya.

BACA JUGA: 5 Dampak Buruk yang Muncul Jika Orang Tua Sering Menakut-nakuti Anak

5. Mulai bangun usaha sampingan
Mungkin saat ini kamu sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap. Namun, belajar dari situasi yang terjadi, seperti adanya wabah covid-19 misalnya, ternyata ada yang tidak bisa mengandalkan pekerjaan dan penghasilan kantoran saja karena perusahaan mengalami pasang dan surut.

Oleh karena itu, ada baiknya untuk memulai usaha sampingan sebagai persiapan menjadi ayah. Usaha sampingan ini bisa dibangun bersama istri atau teman-teman. Buat istri yang tidak bekerja kantoran, usaha sampingan ini bisa menjadi pengisi waktu luang, atau bahkan uang jajan.

Jangan remehkan usaha sampingan karena jika dibangun dengan baik, penghasilannya bisa melebihi gaji kantoran. Selain itu, siapa tahu, kelak usaha yang kamu bangun, bisa diteruskan pada anak dan membantu masa depannya.

6. Berbagi tugas dengan istri
Jika sebelumnya kamu punya pandangan, ‘saya mencari uang, istri mengurus rumah’, maka perlahan pandangan ini perlu diubah,. Setelah memasuki masa kehamilan, istri akan memiliki keterbatasan dalam beraktivitas, terlebih lagi, setelah anak lahir. Ulurkan bantuan untuk meringankan tugas istri di rumah karena mengurus anak adalah kewajiban ayah dan ibu.

Contoh, bantu buatkan susu dan untuk istri di pagi hari, membantu menjemur pakaian, atau membuat meal preparation di akhir pekan. Walaupun misalnya kamu mampu menggunakan jasa ART di rumah untuk membantu istri, namun, bantuan darimu akan amat berarti bagi istri.

7. Belajar menjadi teladan untuk buah hati
Saatnya mengoreksi dan memperbaiki diri agar bisa menjasi teladan yang baik untuk anak. Perlu dikerahui, anak belajar dengan mencontoh apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya, terutama orang tuanya. Kamu pastinya berharap si anak akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang baik. Oleh karena itu, kamu wajib memberi contoh yang baik pula.

Itulah beberapa hal yang perlu kamu siapkan ketika akan menjadi seorang ayah. Selamat mencoba.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
2
+1
1
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar