KB sebelum pernah hamil (freeimages.com)

Menikah di masa pendemi Corona berbeda dengan masa lalu. Fasilitas kesehatan melakukan pengetatan kunjungan untuk mengurangi resiko penularan Corona. Kondisi ekonomi juga melemah karena dampak virus ini. Karena itulah BKKBN menganjurkan untuk menunda kehamilan pada masa pandemi corona. Tetapi bukankah KB sebelum pernah hamil bisa bikin mandul?

Penggunaan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan sering dihindari oleh wanita karena ditakutkan akan menyebabkan efek samping yang berbahaya, seperti mengalami kegemukan,perasaan mual, hingga rahim menjadi kering dan susah punya anak. Biasanya, alat kontrasepsi yang diberikan untuk pengantin baru adalah pil KB.

Ada dua golongan pil KB , yaitu jenis yang mengandung hormon progesteron dan kombinasi progesteron-estrogen. Keunggulan pil KB adalah harganya murah dan mudah dikonsumsi. Tingkat  kegagalan 8% jika penggunanya menggunakan secara teratur. Pil KB ini sifatnya temporer bulanan, artinya jika dihentikan pemakaiannya, maka kemungkinan hamil akan besar.

“Kalau ada yang bilang pil KB bikin rahim kering dan susah punya anak itu tidak benar karena sekarang kadar hormon dalam pil kontrasepsi sudah sangat dijaga. Bahkan banyak pasien saya telat minum dua hari aja bisa hamil,” tutur ahli kandungan dari RS Cipto Mangunkusumo, dr Andon Hestiantoro, SpOG(K) dikutip dari Detik.com.

dr Anton menjelaskan bahwa para ahli dan peneliti sudah mengetahui bahwa untuk mencegah kehamilan itu ternyata tidak diperlukan hormon yang tinggi. Dahulu, dosis yang digunakan sekitar 50 mcg (mikrogram) diturunkan menjadi 20 mcg sehingga efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi bisa diminimalkan.

“Itu mitos zaman dulu ya. Sekarang yang minum pil KB malah wajahnya bisa lebih cantik dan segar. Adanya kandungan drospirenon membuat jerawat berkurang dan kulitnya jadi mulus,” jelasnya.

Memang ada risiko efek samping pemakaian pil KB sebagai alat kontrasepsi. Pil KB bisa meningkatkan risiko darah tinggi dan penyakit kardiovaskular, meningkatan berat badan, mengganggu produksi ASI, pendarahan tiba-tiba di luar jadwal menstruasi, rasa mual, sakit kepala dan terkadang ada rasa tidak nyaman pada payudara, serta gairah seks menurun.

Efek samping ini bukan berarti kamu akan merasakan semua gejalanya. Setiap orang akan merasakan efek samping yang berbeda-beda. Apa pula yang nyaman-nyaman saja tanpa efek samping ketika menggunakan pil KB untuk kontrasepsi. Efek samping ini tidak mempengaruhi kesuburan.

BACA JUGA:

Pentingnya Menunda Kehamilan di Masa Pandemi

Kepala BKKBN DR.(H.C), dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) mengatakan masa awal kehamilan, terutama 8 minggu pertama sangat rawan. Sebab, di periode inilah fase krusial pembentukan organ pada janin. “Gangguan kesehatan atau kurangnya nutrisi ibu hamil di periode ini bisa memicu risiko cacat pada bayi,” terangnya.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, data COVID-19 tidak menunjukkan seorang ibu yang hamil memiliki risiko yang lebih tinggi terkena virus. Meski begitu, seperti yang telah kita ketahui dari penyakit flu, mereka berisiko dalam bahaya yang lebih besar ketika terjangkit infeksi saluran pernapasan.

Kehamilan menyebabkan berbagai perubahan dalam tubuh dan menghasilkan sedikit gangguan kekebalan tubuh yang dapat menyebabkan infeksi hingga menimbulkan lebih banyak rasa sakit, cedera, dan kerusakan. Memiliki infeksi virus pernapasan selama kehamilan, seperti flu, telah dikaitkan dengan masalah seperti berat badan bayi yang lahir rendah dan kelahiran prematur. Selain itu, memiliki demam tinggi pada awal kehamilan dapat meningkatkan risiko cacat lahir tertentu, meski jumlah keseluruhan kejadian cacat tersebut masih rendah.

Selain itu, banyak keluarga yang terganggu ekonominya karena PHK atau usaha yang lesu. Akibatnya, belanja untuk pemenuhan nutrisi jika istri hamil juga akan terganggu. “Apalagi, pada fase hamil muda, daya tahan tubuh turun, jadi lebih rentan terserang penyakit,” ucapnya.

Menurut Hasto, di masa pandemi ini, layanan untuk ibu hamil di fasilitas kesehatan juga akan terdampak. Selain itu, banyak keluarga yang terganggu ekonominya karena PHK atau usaha yang lesu. Akibatnya, belanja untuk pemenuhan nutrisi jika istri hamil juga akan terganggu. “Apalagi, pada fase hamil muda, daya tahan tubuh turun, jadi lebih rentan terserang penyakit,” ucapnya.

Karena itu, Hasto menyarankan agar pasangan usia subur tetap menggunakan alat kontrasepsi di masa pandemi ini. Terkait adanya fasilitas kesehatan yang mengurangi layanannya karena tenaga medisnya kekurangan APD (alat pelindung diri), BKKBN sudah menyediakan alternatif akses layanan KB melalui mobil keliling di berbagai daerah. “Jadi, kami pesan betul, di masa pandemi ini tolong jangan hamil dulu,” ujarnya.

KB Mandiri

Secara mandari kamu bisa tetap melanjutkan KB dengan membeli kondom di apotek atau minimarket terdekat jika kamu tidak bisa berkunjung ke bidan atau rumah sakit untuk meminta resep pil KB, mengikuti jadwal suntik, pemasangan implan, ataupun pengecekan IUD.

Berbagai toko online masih menjual kondom serta pil KB, sehingga kamu bisa memesannya dengan mudah tanpa perlu keluar rumah. Jangan lupa untuk menanyakan ketersediaan stok terlebih dahulu serta memastikan tanggal kadaluwarsa sebelum membeli.

Meskipun tak bisa konsultasi dengan dokter secara langsung, kamu bisa memanfaatkan tehnologi yang memungkinkanmu konsultasi secara online. Konsultasilah dengan dokter untuk meastikan kontrasepsi terus berlanjut.

Jadi, kamu tetap bisa mendapatkan pelayanan KB meskipun tidak bisa ke mana-mana. Apabila sudah terlanjur melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan alat kontrasepsi, kamu bisa menggunakan postpil atau kontrasepsi darurat paling lama 120 jam atau 5 hari setelah melakukan hubungan seksual. Kamu bisa mendapatkan Postpil di apotek terdekat dengan menyertakan resep dokter terlebih dahulu. Jangan ragu menggunakan kontrasepsi KB sebelum pernah hamil di masa new normal ini karena layanan kesehatan sudah dibuka tapi kamu harus tetap memenuhi standart protokol kesehatan yang ketat.

 

Leave a comment