Ilustrasi Rokok (Foto: Pixabay)
Menyiapkan kesehatan bagi calon pengantin adalah hal yang penting. Agar ketika sudah menikah nanti bisa meharikan keturunan yang sehat sempurna. Upaya yang bisa kamu lakukan adalah menghindari rokok karena bisa memicu stunting.
Rokok dapat meningkatkan risiko stunting melalui dua cara:
1. Dalam hal kesehatan, asap rokok  dapat menganggu proses penyerapan gizi pada anak, serta ibu hamil yang terpapar asap rokok memiliki risiko bayi yang lahir prematur dan memiliki berat badan kurang (BBLR).
2. Merokok membebani ekonomi keluarga di mana perilaku belanja rokok membuat orang tua mengurangi jatah belanja makanan bergizi, biaya kesehatan, pendidikan, dll. Apa
artinya? Jika berhenti membeli rokok, kesempatan keluarga untuk belanja makanan bergizi menjadi lebih besar.
Menurut dokter ahli gizi Grace Wangge, ayah dan ibu yang merokok, atau ayah saja yang merokok amat berkorelasi terjadinya stunting. “Pengeluaran uang untuk merokok tetap tapi enggan menambah pengeluaran untuk meningkatkan nutrisi ibu hamil,” ujar dia.
Grace menjabarkan dampak apa saja selama kehamilan yang diakibatkan oleh perilaku ibu yang merokok. Ibu yang merokok berimbas pada pertumbuhan janin yang lebih lambat. Pada saat kelahiran, ibu yang merokok dapat menyebabkan tubuh bayinya lebih pendek sekitar 0,43 cm.
“Anak-anak dengan orang tua perokok, 5,5 persen potensial menjadi stunting dari orang tua yang tidak merokok,” katanya.
Adapun bagi ibu perokok pasif, situasinya juga tak menyenangkan. “Jika dia perokok pasif, misalnya dalam sehari ia terpapar asap rokok selama tiga jam, berisiko meningkatkan kejadian stunting sepuluh kali lebih besar dari yang tidak terpapar,” kata Grace.
Kepala BKKBN Dr (HC) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menjelaskan stunting merupakan sebuah kondisi gagal pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak-anak akibat kurangnya asupan gizi dalam waktu lama, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Stunting memiliki dampak jangka panjang yang sangat terkait dengan
rendahnya kualitas sumber daya manusia, yaitu rendahnya kecerdasan, meningkatnya risiko penyakit tidak menular, serta stunting pada usia dewasa. Di mana dampak ini berpengaruh tidak hanya terhadap dirinya tetapi juga terhadap dua generasi berikutnya
Indonesia masih memiliki angka prevalensi stunting yang tinggi, yaitu
27,67% dan masih di atas angka standar yang ditoleransi WHO, yaitu di bawah 20%. Kondisi ini menjadi tantangan karena pada tahun 2030 – 2040 mendatang Indonesia memasuki periode Bonus Demografi.
“Periode ini hanya akan benar-benar menjadi keuntungan jika penduduk usia produktifnya berkualitas. Oleh karena itu, percepatan penurunan stunting menjadi salah satu prioritas pembangunan. Angka prevalensinya ditargetkan dapat duturunkan
menjadi 14 persen di tahun 2024,” jelas dia.

Leave a comment